|
Sejarah Gereja St Theresia
Awal tahun 1923 Rm. Reksoatmadja, SJ., sering berkunjung ke Sedayu dari Yogyakarta. Di daerah Sedayu kala itu sudah ada pabrik gula dan stasiun kereta api, dan sudah ada beberapa orang yang dipermandikan. Perkembangan selanjutnya pada tahun 1925 Rm. Reksoatmadja, SJ dan Rm. Strater, SJ mengadakan pertemuan yang dihadiri 25 orang untuk memaparkan ajarn -ajaran dasar iman Katolik. Pertemuan itu ternyata mendapat perhatian yang cukup baik dari umat di Sedayu. Lama-kelamaan semakin banyak orang yang mengikuti pelajaran agama Katolik. Wajar bila kemudian muncul adanya reaksi dari pihak lain yang tidak senang terhadap agama Katolik dengan mengatakan bahwa agama Katolik agama penjajah kolonial Belanda karena kebetulan Pastor yang berkarya pada saat itu berasal dari Belanda. Misa Suci pertama kali di Sedayu diadakan pada tanggal 14 Januari 1926, dihadiri kurang lebih 180 orang yang 30 diantaranya sudah masuk Katolik dan menerima sakramen Maha Kudus. Langkah awal untuk mengawali karya misi selain melakukan pelajaran agama juga mendirikan sekolah-sekolah Katolik. Langkah itu diambil mengingat daerah disekitar Sedayu masih banyak penduduk yang belum berpendidikan bahkan belum tahu baca tulis. Tanggapan umat setempat dan sekitarnya terhadap Sabda Allah menberikan dorongan besar agar dibanguan suatu tempat ibadah yang tetap. Pada tahun 1925 dicarilah tanah dengan harga 300 ribu golden. Tanah itu milik Bapak P. Mangundarmo, di dusun Gubug. Tahun 1926 pastor K. de Hoog, SJ mendapat tugas untuk menetap di Gubug Sedayu, meskipun kalau ditinjau dari jumlah umat belum memadai untuk didirikan sebuah paroki menurut ukuran sekarang. Namun karena umat sangat membutuhkan gembala Tuhan, maka dibuatlah sebuah rumah kecil, dengan dinding anyaman bambu, dijadikan tempat ibadah sementara. Sejak itu kurang lebih 70 orang mohon dipermandikan. Akibatnya orang laki-laki diancam tidak mendapat pekerjaan lagi, sedangkan para wanita tidak akan menerima benang lagi untuk dipintal jika mereka masih mengikuti pelajaran agama. Akibatnya ada sejumlah katekumen yang mengundurkan diri walaupun demikian Rm. K.de Hoog, SJ, tetap tengang dan sabar berpasrah diri kepada Tuhan. Gereja dan pastoran mulai dibangun akhir tahun 1926. Secara gotong - royong umat mulai mengumpulkan bahan-bahan bangunan seperti batu, semen, batu bata dan lain-lain. Maka pertengahan tahun 1927 gereja dan pastoran selesai dibangun. Pemberkatan gereja dan pastoran dilaksanakan tanggal 18 Oktober 1927 oleh Rm. Adrianus Van Valken, SJ., Superior Serikat Yesus waktu itu. Supaya jangan sampai ada agitasi, maka upacara dilakukan dengan sederhana dan tanpa dipublikasikan secara luas. Upacara pemberkatan gereja tersebut dihadiri kurang lebih 200 orang. Dalam pemberkatan itulah gereja diberi nama pelindung " SANTA THERESIA" (dari kanak-kanak Yesus), yang pada tahun ini genap berusia 73 tahun. Mulai saat itulah Rm. K.de Hoog, SJ., menetap di Sedayu. Dengan penuh harapan Pastor dibantu oleh Bapak P. Mangundarmo, seorang guru ilmu kejawen, serta Bapak Y. Partodarsono, St.Dapar Martoutomo dari Sedayu, St. Sukemi Madyosuwarno dari Goser. Karya Rm. K.de Hoog, SJ tidak hanya dalam bidang rohani namun juga bidang kemaSJarakatan. Melalui sekolah-sekolah yang didirikan perkembangan umat Katolik semakin bertambah terus. Banyak diantara mereka yang lulus sekolah Volksschool, Vervolgschool yang menjadi pegawai, dilain pihak ada juga yang mendapat cemoohan bahwa agama Katolik agama orang belanda kolonial yang dianggap kafir, tidak mencintai bangsa dan tanah air. Anggapan ini semakin gencar pada PD II, di nama Belanda dipihak sekutu menekankan menjadi orang Katolik tetap menjadi bangsa pribumi yang tulen dan wajib mencintai bangsa dan tanah airnya. Pada tahun 1940 Rm. K.de Hoog pindah ke Pugeran Yogyakarta. Dengan meletusnya perang Asia Timur Raya 1941, mengakibatkan kedudukan seorang Pastur Belanda menjadi sulit. Pengganti RM. K. de Hoog SJ., adalah Rm. A. Djajasepoetra, SJ sampai kedatangan Jepang ke Indonesia awal Maret 1942. Banyak romo-romo Belanda yang ditangkap dan dipenjara termasuk Rm. K.de Hoog, SJ dam Rm. Strater, SJ dan kemudian dipaksa untuk pulang ke Negeri Belanda. Larangan kegiatan misi kegiatan pemerintah Jepang mengurangi perkembangan gereja. Karya pastoral dilanjutkan oleh para katekis. Keprihatinan ini terus bertambah sebab pada masa Jepang banyak terjadi kerusuhan seperti peralatan misa dicuri, alat-alat rumah tangga pasturan hilang. Keprihatinan ini terus menimpa sampai akhir tahun 1942. Semua sekolah yang menggunakan bahasa pengantar Belanda ditutup, sekolah-sekolah misi disita oleh pemerintah Jepang, untung gedung tidak dirusak dan hanya diubah status menjadi sekolah negeri. Situasi perang ini menyulitkan kedudukan orang Katolik apabila seorang pastur yang sering dianggap menjadi mata-mata belanda. Oleh karena itu kadang kala seorang pastur dikawal oleh TRI demi keselamatan dan juga menjaga persatuan bangsa. |